Jurnalis: Red.

NusantaraBersatuNews.Com, Jakarta- Organisasi Kepemudaan yang bernama Barisan Pemuda Nusantara saat ini menjadi buah bibir Kalangan Pemuda dan banyak orang. Mereka penasaran akan ormas bernuansa sejarah satu ini.

Ketua Umum Bapera Fahd El Fouz A Rafiq ingin membangkitkan Api Sejarah kepada generasi muda di negeri yang dahulu bernama Nusantara, beliau ingin generasi sekarang bangkit dan bersemangat dalam melihat sejarah untuk menggapai peradaban maju.

Bicara Nusantara lekat dengan sosok Patih Gajah Mada. Gajah Mada adalah sosok mahapatih paling berpengaruh dalam perjalanan panjang Kerajaan Majapahit menuju puncak kejayaaannya.

Kobarkan api semangat untuk mencapai peradaban maju, kurang lebih itulah kalimat motivasi kepada para pemuda khususnya, yang saat ini masih tertidur lelap akibat dampak negatif dari globalisasi.

Sekilas membahas Gajah Mada Dikutip dari kompas.com. Singkatnya Tahun 1334 Gajah Mada resmi dilantik menjadi mahapatih oleh Ratu Tribhuwanatunggadewi. Saat dilantik menjadi mahapatih, Gajah Mada mengucapkan sumpahnya yang terkenal dengan sebutan Sumpah Palapa.

Isi Sumpah Palapa, yaitu: “Lamun huwus kalah nusantara, ingsun amukti palapa. Lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Baki, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa” (Selama aku belum menyatukan Nusantara, aku takkan menikmati palapa (kesenangan).

Sebelum aku menaklukkan Pulau Gurun, Pyulau Seram, Tanjungpura, Pulau Haru, Pulau Pahang, Dompo, Pulau Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, aku takkan mencicipi palapa). Ketika sumpah tersebut diucapkan, banyak yang meremehkan dan menertawakan cita-cita Gajah Mada untuk menyatukan nusantara.

Meski sempat berkecil hati lantaran diremehkan dan ditertawakan, Gajah Mada bertekad membuktikan sumpahnya dengan keberanian dan kerja keras.

Selama 21 tahun, yakni antara tahun 1336-1357, dirinya melaksanakan misi untuk menyatukan nusantara hingga akhirnya lebih dari 30 wilayah berhasil dikuasai.

Wilayah-wilayah tersebut adalah Bedahulu (Bali), Lombok, Palembang, Swarnabhumi (Sriwijaya), Tamiang, Samudera Pasai, Pulau Bintan, Tumasik (Singapura), Semenanjung Malaya, Kapuas, Katingan, Sampit, Kotalingga (Tanjunglingga), Kotawaringin, Sambas, Lawai, Kandangan, Landak, Samadang, Tirem, Sedu, Brunei, Kalka, Saludug, Solok, Pasir, Barito, Sawaku, Tabalong, Tanjungkutai, dan Malinau.

Seluruh wilayah yang luas tersebut diayomi dengan semboyan “Bhineka Tunggal Ika, tan hana dharma mangrwa, dan Mitreka Satata”, yang artinya, meskipun berbeda-beda, tetapi tetap satu, sebab tidak ada dharma (kewajiban) yang berbeda.

Masa keemasan Majapahit berlangsung ketika Prabu Hayam Wuruk memerintah dan didampingi Gajah Mada.

Wilayah Majapahit pun semakin luas, yakni hingga mencapai Gurun, Sukun, Taliwung, Sapi Gunungapi, Seram, Hutankadali, Sasak, Batayan, Luwuk, Makassar, Buton, Kunir, Galiyan, Salayar, Sumba, Muar (Saparua), Solor, Bima, Wandan (Banda), Ambon, Wanin, Seran, Timor, dan Dompo.

Belajar dari ulasan sejarah diatas, Ketua Umum Bapera Pusat Fahd A Rafiq Ingin membangkitkan Api Sejarah kepada pemuda dan masyarakat Indonesia, kita jangan tertidur lelap oleh pesatnya perkembangan zaman. Mari kita bangkit dan semangat untuk Indonesia menuju peradaban maju.(NB)

Share

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.