Jurnalis: Umar Hakim

NusantaraBersatuNews.Com,Banda Aceh – Memasuki tahun 2022 ini, kemiskinan di Aceh menjadi permasalahan yang tak kunjung diselesaikan oleh Pemerintah Aceh.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh merilis persentase penduduk miskin selama periode Maret 2021-September 2021. Tingkat kemiskinan di Aceh pada periode tersebut meningkat dari 15,33 persen menjadi 15,53 persen.

Berdasarkan data BPS Pusat, angka tersebut membuat Aceh masih mempertahankan posisi sebagai provinsi termiskin di sumatera dan masuk lima besar provinsi termiskin di Indonesia.

Pakar Ekonomi Aceh, Dr Amri MSi mengatakan permasalahan kemiskinan Aceh tak terlepas dari tidak pedulinya pemerintah Aceh pada sektor industri Hulu yang mengelola bahan mentah hasil produksi sector primer baik pertanian, peternakan, dan kelautan.

“ Bagaimana mau terlepas dari provinsi termiskin di Aceh, jika sampai saat ini sektor pertanian saja pemerintah tidak peduli, bisa kita lihat dari plot anggaran kepada Dinas Pertanian Aceh yang lebih kecil dari pada Dinas-dinas lainnya, itu tanda pemerintah tidak peduli pada sektor tersebut,” ujar Akademisi Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala, Dr Amri kepada awak media, Sabtu, (19/02/2022).

Dari amatan Dr Amri, ia mengatakan sektor primer di Aceh ini aktivitas perekonomian paling banyak terjadi. Ironisnya kesejahteraan para petani dan nelayan Aceh sampai saat ini masih belum terjamin, predikat miskin terus mereka rasakan.

“ Kita tahu potensi Pertanian di Aceh tinggi kualitasnya, namun sayang hasil panennya harus dijual langsung ke Medan untuk di olah dan dijual kembali ke Aceh dengan harga mahal.

Nah disini kita bisa lihat pemerintah Aceh tidak punya upaya untuk mendirikan industri di Aceh, agar harga pasar dapat dikendalikan dan masyarakat juga sejahtera,”ungkapnya.

Seperti halnya, ia katakan pesoalan kelangkaan minyak goreng yang terjadi di Aceh akhir-akhir ini, Pemerintah Aceh lagi-lagi hanya memikirkan solusi jangka pendek untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

Dilansir dari Nukilan.id Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Aceh, Ir. Mohd. tanwier, MM sudah memastikan bahwa sebanyak 2000 ton minyak goreng curah telah masuk ke Aceh pada Sabtu, (12/02).

Menurutnya Pemprov Aceh harus mengambil solusi jangka panjang seperti industri hulu untuk menstabilkan harga pangan yang ada di Aceh.

Databox mencatat mayoritas atau 36,13% lapangan pekerjaan utama penduduk Aceh ada di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan pada Agustus 2021.

Posisi kedua adalah perdagangan besar dan eceran sebesar 16,24%.Dari data tersebut, Dr Amri mengatakan sektor primer ini sangat penting untuk menyelamatkan ekonomi Aceh saat ini.

“Jika tidak diperhatikan, maka akan berdampak buruk untuk perekonomian Aceh kedepan, sehingga pemutaran uang jadi melemah, akibat permainan harga pasar,” pungkasnya.(NB)

Share

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.