NusantaraBersatuNews.Com, Kota Langsa – Kasus tewasnya pencuri bebek yang bernama M. Jufri (18) setelah berkelahi dengan pemilik rumah yang bernama Syahrul Fauzi (17) yang terjadi pada hari Sabtu, 14/5 di Gampong Alue Dua Kota Langsa, ternyata cukup menyita perhatian berbagai kalangan, dalam hal ini termasuk organisasi Ikatan Alumni Fakultas Hukum Universitas Samudra (IKAFAHU).

Sejak berita tersebut tersebar di banyak media, IKAFAHU terus memantau perkembangan kasus tersebut dan terakhir berdasarkan Press Release resmi dari Polres Langsa pada hari Minggu, (15/5) di hadapan awak media, disampaikan bahwasannya Syahrul Fauzi terlibat perkelahian dengan M. Jufri dikarenakan M. Jufri melakukan pencurian di rumah Syahrul Fauzi. Dalam perkelahian tersebut ternyata mengakibatkan M. Jufri meninggal dunia sehingga Syahrul Fauzi diduga telah melakukan tindak pidana penganiayaan berat yang mengakibatkan hilangnya nyawa Terduga pencuri M. Jufri sebagaimana diatur dalam Pasal 351 ayat (3) KUHP.

Namun dikarenakan Syahrul Fauzi melakukan hal tersebut bermaksud sebagai pembelaan terpaksa untuk diri sendiri maupun untuk keluarganya yang berada di rumah, maka berdasarkan ketentuan Pasal 49 ayat (1) KUHP selanjutnya Polres Langsa menghentikan proses penyelidikan/penyidikan perkara tersebut karena perbuatan Syahrul Fauzi tidak dapat dipidana.

“Alhamdulillah, kami mengapresiasi kinerja yang cepat dan tepat yang dilakukan oleh Polres Langsa yang menetapkan telah memberhentikan Penyelidikan kasus pidana yang menjerat Syahrul Fauzi.

Kami yakin tentunya Polres Langsa sebelum menetapkan hal tersebut pasti berdasarkan pertimbangan fakta dari hasil pemeriksaan dan juga berdasarkan ketentuan yang berlaku dalam KUHP. Kami melihat apa yang dilakukan Syahrul Fauzi sesungguhnya tak lain merupakan pembelaan terpaksa akibat serangan dari M. Jufri yang mengancam nyawa Syahrul Fauzi.” Ujar Dr. Darwis Anatami, S.H., M.H. selaku Ketua IKAFAHU.

Kemudian Darwis melanjutkan “Kejadian yang dilakukan oleh Syahrul Fauzi terhadap M. Jufri istilah hukumnya disebut noodweer (pembelaan terpaksa) dan hal tersebut diatur dalam Pasal 49 KUHP.

Secara konkrit, unsurnya yaitu apabila pembelaan tersebut dilakukan dalam keadaan terpaksa dan berlangsung seketika pada saat terjadinya perkelahian, maka sudah tepat Polres Langsa menerapkan ketentuan Pasal 49 KUHP dalam perkara tersebut. Mudah-mudahan kejadian ini menjadi pelajaran bagi seluruh warga Kota Langsa”.(AWR)

Share

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.