Foto : Tampak Rama Suryadi Hadi Kusumo, selaku sesepuh Desa Kebobang, memandu tembang macapat dengan mengawali setiap jenis tembang macapat, di balai desa Kebobang, Kec. Wonosari (Gunung Kawi), Minggu malam (12/6’22).


MALANGKAB – Macapat adalah tembang atau puisi tradisional Jawa. Setiap bait macapat mempunyai baris kalimat yang disebut gatra, dan setiap gatra mempunyai sejumlah suku kata tertentu, dan berakhir pada bunyi sajak akhir yang disebut guru lagu.

Ir. Moeljono Budoyo Hadipuro, MM. selaku Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara (LOKANTARA) Malang Raya, mengatakan, “bawa budaya tembang macapat merupakan warisan leluhur, khususnya di Jawa. Dan tradisi/adat istiadat ini biasa ditembangkan/dilagukan pada saat Bersih Desa, baik sebelum dilaksanakan pembukaan maupun pada saat malam puncaknya acara, ulasnya.

Seperti yang saat ini dilaksanakan di Desa Kebobang, Kecamatan Wonosari (Gunung Kawi), Kabupaten Malang, Minggu malam, mulai pukul 21.00 sampai dengan 24.00 wib (12/6’22), ungkap Moeljono.

Foto : Para pemerhati budaya tembang macapat dan para sesepuh desa Kebobang, saat pagelaran tembang macapat.


Rama Suryadi Hadi Kusumo Sunaryo Putro selaku sesepuh Desa Kebobang, dan juga merupakan cucu daripada Eyang Djimat Soerjo Alam, menyampaikan, “kegiatan budaya tembang macapat ini setiap tahun dilaksanakan di balai desa Kebobang, pada malam sebelum pertunjukan wayang kulit besok harinya,” ungkapnya.

Dalam budaya Jawa ada salah satu karya sastra bernama tembang macapat yang sampai sekarang terus dilestarikan. Meskipun tidak sepopuler dahulu, ada beberapa orang Jawa yang masih menggunakan tembang macapat dalam acara-acara mereka. Ada 11 daftar tembang macapat dan maknanya yang berbeda-beda di setiap tembangnya. Nah jadi tembang macapat yang dibawakan disesuaikan dengan Suasana acara yang sedang digelar, tandasnya pula.

Adapun 11 daftar tembang macapat tersebut adalah sebagai berikut : 1. Tembang Maskumambang (Janin); 2. Tembang Mijil (Terlahir); 3. Tembang Sinom (Muda); 4. Tembang Kinanthi (Dituntun); 5. Tembang Asmaradana (Api Asmara); 6. Tembang Gambuh (Sepaham/Cocok); 7. Tembang Dhandanggula (Manisnya Kehidupan); 8. Tembang Durma (Memberi); 9. Tembang Pangkur (Menarik Diri); 10. Tembang Megatruh (Sakaratul Maut); 11. Tembang Pocung (Kematian), jelasnya.

Semoga tradisi tembang macapat ini dapat lestari, dan generasi milenial bisa belajar dan ikut menjaga, serta Melestarikannya, pesan Rama Suryadi.

Tembang macapat dihadiri oleh para pemerhati budaya dan para sesepuh Desa Kebobang, Kec. Wonosari, Kab. Malang. (John)

Share

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.