Hasil Tes Kebohongan Ferdi Sambo dan Putri Candrawathi Tidak Diungkap Polri, Pakar Hukum Bilang Begini

NusantaraBersatuNew.Com, Jakarta – Pakar hukum pidana Universitas Pelita Harapan (UPH), Jamin Ginting, menyoroti keputusan Polri yang tidak mengungkap hasil uji lie detector atau tes kebohongan dengan alat poligraf, terhadap dua tersangka pembunuhan Brigadir J, Irjen Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi. 

Padahal, hasil tes kebohongan tiga tersangka lain yaitu Bharada E alias Richard Eliezer Pudihang Lumiu, Bripka Ricky Rizal, dan Kuat Ma’ruf, diumumkan ke publik. Mereka dinyatakan jujur.

“Dalam konteks hasil (lie detector) itu ada tiga, pertama deception indicated yang artinya ada kebohongan, no deception indicated yakni jujur, dan inklusif, tidak dapat disimpulkan apakah bohong atau jujur,” kata Jamin dalam program Laporan Khusus Kompas TV, Jumat (9/9/2022). 

“Kalau dia (hasil tes) bisa disampaikan ke publik, berarti tadi sudah dikatakan tidak ada kebohongan atau no deception indicated. Kalau ada kebohongan berarti dia tidak bisa disampaikan ke masyarakat karena konsumsinya pro justitia (demi kepentingan hukum, red) dan harus dipastikan itu benar-benar akurat.” 

Jamin kemudian mengatakan, jika memang hasilnya berbohong, harus ada pemeriksaan kembali dari ahli psikologi.

Hal ini dilakukan untuk memastikan apakah pada saat itu ada yang menunjukkan kondisinya masuk no deception indicated.

“Jadi tidak bisa berdiri sendiri, harus ada ahli psikologi juga. Bisa saja pada situasi tertentu, kondisi tubuhnya memang tidak memungkinkan diperiksa, sehingga istilahnya sistem kardiovaskularnya terhambat yang mengakibatkan iramanya tidak teratur,” ujarnya.

Namun Jamin juga mengatakan tidak menutup kemungkinan jika hasil tes kebohongan Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi masuk kategori inklusif.

“Kalau inklusif harus diperiksa lagi. Ini tidak bisa sekali, kalau udah dua kali hasilnya sama, itu bisa disampaikan. Cuma permasalahannya Polri tidak bisa menyampaikan itu, karena bagian dari proses penyidikan,” jelasnya. 

Namun, di luar terkait masih misteriusnya hasil tes kebohongan Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi, Jamin menegaskan bahwa pada prinsipnya, kedudukan lima tersangka dalam kasus pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J, sama di hadapan hukum.

Di mana lima tersangka tersebut sama-sama disangkakan dengan pasal pembunuhan berencana.

“Tetapi pada prinsipnya kedudukannya sama di hadapan hukum. Mereka sama-sama tersangka dengan kasus 340 subsider 338,” tegasnya.

Diberitakan sebelumnya, Direktur Tindak Pidana Umum (Dirtipidum) Bareskrim Polri Brigjen Pol. Andi Rian Djajadi mengungkapkan alasan hasil tes kebohongan Putri Candrawathi tidak diungkap di publik.

Menurutnya, itu dikarenakan hasil tes merupakan bagian dari materi penegakan hukum serta tak ingin hasil tes dijadikan dasar analisis liar.  

“Saya melihat justru analisis liar dari media dan pengamat yang tidak paham teknis pascapelaksaaan uji poligraf,” kata Andi, Jumat (9/9). 

Andi mengatakan, semua fakta yang diperoleh dari penyidikan yang dilakukan oleh penyidik Dittipidum Bareskrim Polri termasuk hasil lie detector, akan diungkapkan di persidangan.

Polri juga enggan membeberkan hasil lie detector milik Ferdy Sambo.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol. Dedi Prasetyo beralasan, hasil pemeriksaan tersebut merupakan kewenangan Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri dan penyidik kepolisian.

“Hasilnya apakah sudah selesai? Itu domainnya Laboratorium Forensik dan penyidik,” tegas Dedi.

“Hasil uji lie detector atau polygraph, pro justitia (demi penegakan hukum) untuk penyidik.”

Sumber : Kompas.Com

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *