AKTIVIS MUDA ASWAJA KOTA LANGSA INISIASI DISKUSI ILMIAH PENTINGNYA BERMAZHAB

Para aktifis Aswaja (Ahlussunnah Wal Jamaah) Kota Langsa berkumpul dalam satu forum diskusi ilmiah bertema; ‘’Mengukuhkan Eksistensi Mazhab di tengah seruan An La Mazhabiyah”, diskusi tersebut berlangsung di Dayah Madinatuddiniyah Al Mukarramah, Gampong Paya Bujok Tengoh, Kecamatan Langsa Barat, Kota Langsa, Jum’at, (18/11/2022).

Kegiatan tersebut lahir dari keresahan para aktivis muda Aswaja kota Langsa terkait mulai maraknya slogan Kembali kepada Al- Qur’an dan Sunnnah yang disalah pahami dan kegiatan tersebut sepenuhnya difasilitasi oleh Tgk. Sulaiman Muda, S.Pd.I Selaku Pimpinan Dayah Madinatuddiniyah Al Mukarramah.

Tgk. Sulaiman Muda dalam Sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah rentetan dari kegiatan Maulid yang diadakan Dayah Madinatuddiniyah Al Mukarramah, namun dirinya ingin membuat nuansa baru dalam agenda maulid kali ini dengan memasukkan agenda diskusi ilmiah dengan tujuan menghidupkan kembali ghirah diskusi ilmiah ditengah-tengah masyarakat kota Langsa.

Agenda Diskusi tersebut diisi oleh Tgk. Ihsan Sulis, M.Ag sebagai moderator dan ada beberapa narasumber di antaranya Tgk. Mursyidi Abdurrahman (Ketua LBM Mudimesra 2015-2022 dan Pimpinan Dayah Madinatul ulum Al Aziziyah, Birem Bayeun, Aceh Timur), Tgk. Syibral Malasyi (Ketua TKD Kota Langsa) dan Tgk. Zainuddi Hasbi (Sekretaris HUDA Langsa Barat).

Dalam kesempatan tersebut Masing-masing pemateri diberi waktu 10 menit untuk mengurai tema. Tgk. Mursyidi Abdurrahman membahas sub tema; “Bermazhab sebelum era mazhab 4”, Tgk. Syibran Malasyi; “Maulid dalam Kacamata Mazhab” dan Tgk. Zainuddin; “Kritik Sosial terhadap Kelompok Anti Mazhab”.

Dalam uraiannya Tgk. Mursyidi menjelaskan berdasarkan kitab Al Ilal karangan Imam Ali Al Madini (234 H) yang merupakan guru dari Imam Ghazali, bahwa para Sahabat di zaman Rasul saja sudah mengikuti pola bermazhab kecuali 6 orang; Saidina Umar, Ali, Abdullah Bin Masud, Ubay, Abu Musa Asy A’ri dan Zaid bin Tsabit yang memang telah memiliki kapasitas keilmuan memadai.

Alumnus Dayah Madinatuddinyah Babussalam BlangBladeh, sekaligus Dosen Ma’had Aly Mudimesra ini juga menjelaskan bahwa bermazhab memiliki keistimewan, diantaranya; Dhabit dalam berfawa, mengetahui illat dan rahasia hukum, mengetahui ribuan furu’ fiqhiyah, membangun malakah fiqhiyah dan masih banyak lagi.

Sementara itu Tgk. Syibran Malaysi dalam kesembatan tersebut mengulas Pentingnya Maulid dalam Kaitannya dengan Bermazhab, beliau juga menjelaskan 6 tipe masyarakat dalam menanggapi maulid; ada tipe Perut, hati, pikiran, badan dan harta, anti maulid dan paket komplit.

Adapun Tgk. Zainuddin atau yang akrab disapa Tgk. Zein, mengurai fenomena-fenomena kekinian yang berkaitan dengan kondisi kita beragama hari ini, beberapa pertanyaan audien juga beliau jawab dengan kritis sehingga para hadirin ikut terpancing berfikir dalam forum tersebut.

Menutup diskusi Tgk. Ihsan Sulis selaku Moderator memaparkan fakta bahwa secara historis Aceh memang telah memiliki konstruk beragama yang mengikuti Mazhab ujarnya, hal ini dapat dilihat lewat Qanun Mekuta Alam (Undang-Undang Kerajaan Aceh Masa Sultan Iskandar Muda) dimana pada Bab I telah disebutkan bahwa dasar hukum kerajaan Aceh adalah Qur’an, Hadis, Ijma’ Qiyas dan bermazhab.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *